Pentingnya Memotivasi Diri Sendiri
Tak gampang lho memotivasi diri sendiri. Dibutuhkan beberapa pengetahuan dan kiat agar Anda bisa segera mengembalikan semangat Anda yang terpuruk.
Sudah beberapa hari ini, Rani merasa tak punya gairah. Entah di rumah, di kantor maupun di lingkungan pergaulannya yang lain. "Rasanya nggak ada semangat," keluhnya. Ia tak tahu penyebab kenapa semangatnya mendadak menurun seperti itu. Yang sangat terasa dampaknya adalah di kantor. Pekerjaan-pekerjaannya banyak yang menjadi terbengkelai. Komunikasi dengan rekan kerja atau atasan pun jadi terhambat. Padahal, biasanya, ia adalah seorang yang sangat aktif.
Hal serupa terjadi pula pada Dini. Awalnya, ia berselisih dengan salah seorang rekan kerjanya. Persoalannya sepele, hanya karena ada ucapannya yang menyinggung perasaan rekan kerjanya. Dan, ia merasa tak harus menyelesaikan persoalan itu dengan rekan kerjanya itu. Akibatnya, persoalan pun menjadi berlarut-larut, dan bahkan mengganggu kinerjanya di kantor. Tentu, banyak temannya yang terheran-heran, karena Dini biasanya adalah seorang yang sangat jago berkomunikasi dan piawai dalam memompa semangat kerja rekan-rekannya. Apa sebetulnya yang terjadi pada Rani dan Dini?
Banyak memang orang yang mempunyai keinginan untuk memotivasi orang lain (rekan kerja, bawahan, maupun orang-orang di sekeliling mereka). Tetapi banyak yang lupa, bahwa kunci sukses untuk memotivasi orang lain adalah terlebih dahulu memotivasi diri sendiri. Demikian juga dengan Anda.
Tidak dapat dipungkiri, Anda pun pasti pernah mengalami penurunan semangat dalam melakukan suatu tindakan. Dalam hal pekerjaan misalnya. Dengan kata lain, Anda pernah mengalami penurunan motivasi. Hal itu pasti juga pernah dialami oleh orang-orang di sekitar Anda. Yang membedakan adalah faktor penyebabnya dan efeknya.
Penurunan motivasi tentu saja akan berpengaruh terhadap kinerja Anda. Contohnya seperti Rani. Dengan kata lain, penurunan motivasi bisa saja menyebabkan produktivitas kerja pun menurun. Oleh sebab itu, tak ada jalan lain kecuali Anda harus menumbuhkembangkan kembali motivasi tersebut. Dengan kata lain, Anda harus mampu memotivasi diri Anda sendiri. Bagaimana caranya?
1. TETAPKAN TUJUAN
Tetapkan tujuan Anda dengan jelas. Apa kira-kira hasil dari tindakan Anda. Semakin jelas tujuan, maka Anda akan mempunyai energi untuk menggerakkan diri menggapai tujuan tersebut. Yang menjadi persoalan, seringkali Anda melakukan suatu tindakan hanya secara reaktif semata. Artinya, Anda bertindak dulu baru kemudian menetapkan tujuan.
Inilah yang seringkali membuat Anda seolah-olah kehilangan arah. Anda merasa berjalan tanpa pemandu atau kompas yang jelas. Maka tidak menutup kemungkinan ketika Anda mengalami rintangan, langkah yang Anda ambil adalah mundur dan menyerah kalah.Lain halnya ketika Anda sudah menetapkan tujuan yang jelas sebelum bertindak. Anda akan mempunyai titik pusat yang hendak dituju. Anda sudah mempunyai bayangan, bahwa Anda akan mencapai finish atau garis akhir yang jelas, meskipun Anda tahu banyak rintangan yang akan Anda hadapi.
Dengan menetapkan tujuan yang jelas, maka Anda pun akan siap menembakkan busur panah menuju lingkaran yang telah Anda ketahui sebelumnya. Hal inilah yang akan membuat Anda mempunyai motivasi yang tinggi, karena sebelum bertindak, Anda sudah yakin bahwa tindakan Anda akan menghasilkan sesuatu yang tidak sia-sia.Yang tak kalah penting adalah, Anda harus yakin pasti bisa meraih tujuan-tujuan yang sudah Anda tetapkan itu. Untuk itu, Anda sebaiknya juga mengetahui kekuatan dan kelemahan Anda.
2. TENTUKAN INDIKATOR
Menentukan indikator keberhasilan artinya Anda harus mampu membuat ukuran-ukuran mengenai keberhasilan suatu tindakan. Anda harus mampu menentukan variabel-variabel apa saja yang akan dimasukkan ke dalam kriteria pengukuran. Dengan demikian, Anda pun akan dengan mudah menentukan hal-hal yang bisa membuat Anda berhasil. Dengan menentukan indikator keberhasilan, maka Anda pun akan selalu termotivasi untuk mewujudkannya. Dampaknya, yang tumbuh dalam diri Anda adalah perasaan optimis.
Tentu, Anda harus menetapkan tindakan apa yang akan Anda lakukan untuk memenuhi indikator-indikator tersebut. Tindakan tersebut harus dapat diukur, baik secara kualitas maupun kuantitas, selain harus juga realistis. Jangan melakukan sesuatu yang memang sudah jelas tak mungkin bisa dicapai. Jangan lupa untuk juga menentukan tenggat waktu (deadline). Tanpa tenggat waktu, bisa-bisa Anda bertindak asal-asalan, atau bahkan melenceng dari tujuan semula.
Dengan menentukan indikator keberhasilan, pola pikir Anda pun akan lebih mudah diarahkan pada hal-hal yang positif. Seolah-olah dalam diri Anda akan muncul suatu energi yang mendorong Anda untuk berani bertindak, tanpa ragu-ragu. Anda akan mempunyai keberanian untuk memulai langkah pertama. Keberanian untuk melangkah inilah yang akan memotivasi Anda untuk membuat langkah-langkah selanjutnya.
3. MINTALAH UMPAN BALIK
Meminta umpan balik kepada pihak lain adalah salah satu cara untuk menumbuhkan motivasi dalam diri Anda. Kenapa demikian? Karena dengan menerima umpan balik berarti Anda mempunyai kesempatan untuk melakukan perbaikan-perbaikan atas tindakan yang Anda lakukan. Yang penting adalah menerima umpan balik dengan pikiran yang positif.
Supaya umpan balik yang diberikan oleh orang lain tersebut memotivasi Anda, maka Anda harus berani membuka diri. Bahkan kalau perlu Anda berinisiatif untuk meminta umpan balik tersebut. Jangan menganggap umpan balik sebagai ancaman atau musuh. Apabila dalam diri Anda tertanam pikiran seperti itu, umpan balik akan membuat Anda bagaikan tertusuk pisau tajam.
Mintalah kepada si pemberi umpan balik untuk memberikan solusi atas umpan balik yang diberikan. Sehingga Anda pun tahu hal-hal mana yang harus Anda perbaiki atau sudah Anda capai. Semakin berani menerima umpan balik sebanyak mungkin, maka dalam diri Anda bagaikan sebuah bangunan yang mempunyai pondasi yang kuat. Artinya, umpan balik akan membuat Anda semakin kuat dan kokoh dalam berjuang mewujudkan keinginan-keinginan Anda.
Jangan lupa, catatlah setiap umpan balik yang diberikan, baik yang positif maupun yang negatif. Jika umpan balik itu dirasa memang positif, tak ada salahnya mencoba melakukannya. Misalnya jika Anda dikritik tak disiplin, maka cobalah untuk memulai berdisiplin. Juga, jangan membela diri dengan mengajukan berbagai alasan yang tak masuk akal, yang asal-asalan.
4. BUATLAH EVALUASI
Setiap orang pasti mengharapkan apa yang ia kerjakan akan diberi penilaian. Laiknya seorang murid yang akan menjalani ujuan untuk menilai prestasinya selama periode tertentu masa belajar. Anda pasti juga butuh evaluasi untuk melihat "nilai-nilai" Anda.Dengan mendapatkan evaluasi, berarti Anda mempunyai parameter yang jelas terhadap apa yang sudah Anda lakukan. Evaluasi akan membuat Anda dihargai sebagai seorang pribadi yang telah berjuang. Lalu, siapa yang harus mengevaluasi hasil kerja Anda?
Mintalah orang yang berwenang (misalnya atasan) untuk menilai apakah hasil kerja Anda sudah memenuhi harapannya atau belum. Mintalah kepadanya untuk mengevaluasi secara jujur dan obyektif. Semakin jujur dan obyektif evaluasi yang diberikan, maka dalam diri Anda akan muncul suatu keyakinan bahwa penilaian tersebut memang benar adanya.
Jika hasil evaluasi tersebut positif dan membuat Anda puas, janganlah berhenti untuk berbuat dan bekerja keras. Ciptakan sebuah prestasi (tindakan) yang jauh lebih menantang lagi, yang tingkat kesulitannya lebih tinggi. Sebaliknya, jika evaluasi itu membuat Anda tidak puas dan malah cenderung mengendorkan semangat, terimalah itu sebagai sebuah realitas. Mu
ngkin Anda harus mundur sejenak, siapa tahu kalau apa yang Anda lakukan memang jauh dari kekuatan Anda!
Pokoknya, jangan berhenti untuk menciptakan peluang atau tindakan baru. Juga, jangan malu untuk mengakui bahwa masih banyak hal yang perlu Anda kembangkan.
Kiriman: E. Widijo Hari Murdoko, S.Psi., Konsultan dan Praktisi Pengembangan SDM







