Baru-baru ini Mervyn King, gubernur Bank of England, menyatakan nice decade telah berakhir. Apakah pernyataan tersebut menandakan nasty decade akan segera menghampiri?Wajar jika pernyataan bernada getir tersebut terlontar dari mulut orang nomor satu Inggris dalam hal kebijakan moneter. Tengok rata-rata inflasi dunia yang menyentuh angka 5,5 persen. Angka tersebut tertinggi sejak 1999. Inflasi di negara maju, seperti AS dan Eropa mencapai 3,9 persen dan 3,3 persen. Ada gambaran berbeda di emerging countries.
Inflasi Vietnam lebih dari 25 persen. Singapura, Thailand, Filipina, dan Indonesia berkisar 7,5 persen sampai 11 persen. Di Indonesia laju inflasi Mei year on year yang melesat hingga 10,38 persen memaksa BI meningkatkan BI rate menjadi 8,5 persen.
Dengan fakta seperti itu, kondisi emerging countries hampir mirip dengan negara maju ketika dilanda great inflation pada 1970an. Rata-rata inflasi AS ketika itu delapan persen. Para pengambil kebijakan di emerging countries melihat kenaikan inflasi sebagai akibat dari supply shock jangka pendek sehingga cara terbaik adalah dengan meningkatkan interest rate. Mereka tidak berusaha menyumbat kenaikan harga melalui price control atau subsidi.
Sayangnya, bank sentral gagal membendung ekspektasi inflasi sehingga angka inflasi membubung tinggi. Di Indonesia kontrol terhadap inflasi menjadi sangat penting jika melirik studi Basri, Damayanti, dan Sutisna (2002) dari LPEM FEUI yang menunjukkan bahwa sumber inflasi Indonesia paling utama adalah ekspektasi inflasi, diikuti depresiasi nilai tukar dan uang beredar.
Penting mengklarifikasi kehadiran inflasi. Survei Easterley dan Fischer (2000) di 38 negara menghasilkan kesimpulan bahwa pihak yang paling menderita atas kehadiran inflasi adalah masyarakat miskin. Ronald Reagan sesekali mendeskripsikan inflasi as violent as a mugger, as frightening as an armed robber, and as deadly as a hit-man. Bahkan, John Train, penulis buku The Money Masters, menyebut inflasi sebagai the biggest problem in the world.
Fenomena decoupling
Kejadian ini berawal dari gejolak di pasar finansial. Bermuara pada krisis sub-prime mortgage, disusul krisis minyak dan beberapa komoditas utama dunia. Ketiga guncangan tersebut bertindak sebagai katalis yang menjadi momok pembentuk kelimbungan.
Jika sejarah yang menjadi panduan, gejolak tersebut merupakan akumulasi dari mendominasinya sektor finansial di tataran perekonomian global. Artinya, sektor finansial tak lagi menjadi subordinasi sektor riil. Oleh ekonom fenomena ini disebut decoupling.
Fenomena ini bukan baru. Peter Drucker mengamati fenomena itu sejak 1990-an. Ketika itu dana-dana yang menganggur, seperti dana pensiun dan asuransi, dilepas ke pasar modal agar berlipat ganda. Sejak itu terjadi semacam revolusi pasar modal global.
Fund manager bermunculan. Ruang untuk menanamkan investasi dan memperoleh gain terbuka lebar. Walhasil, pasar modal didominasi kegiatan spekulasi. Situasi yang sama terjadi di pasar uang. Selain sebagai short-term financing, instrumen pasar uang juga dipakai kegiatan spekulasi.
Kombinasi keduanya menciptakan arus finansial global yang berkembang sangat cepat layaknya deret ukur, sedangkan sektor riil bergerak lambat layaknya deret hitung. Pada awal 2000 pergerakan sektor finansial secara global 2 triliun dolar AS per hari atau 700 triliun dolar AS per tahun.
Pergerakan sektor riil hanya 7 triliun dolar AS per tahun. Berarti pergerakan sektor finansial 100 kali lebih cepat dari sektor riil. Tentu saja dalam delapan tahun terakhir sektor finansial akan bergerak semakin intensif secara kuantum dibandingkan pergerakan sektor riil.
Globalisasi juga menciptakan kebutuhan baru akan produk keuangan sehingga kebutuhan inovasi produk keuangan menjadi tak terelakan. Permasalahannya, inovasi produk keuangan sering memiliki kompleksitas yang tinggi sehingga membuat otoritas keuangan kurang baik dalam mengalkulasi risiko atas kehadirannya.
Sering muncul diskusi mengenai produk keuangan yang berbahaya (toxic derivative). Lembaga pemeringkatan pun hanya menggunakan informasi yang disediakan langsung dari pengelola produk tersebut sehingga terjadi informasi yang tidak sempurna. Hasilnya, pecahnya bubble sub-prime mortgage menjadi suatu keniscayaan dan memang telah terjadi.
Bangkrutnya produk derivasi di pasar finansial AS ditambah kondisi over-liquidity mendorong pengalihan investasi menuju emerging market karena kran likuiditas tetap harus dikucurkan agar likuiditas yang ada tetap menghasilkan return. Buktinya guyuran capital inflow masih terjadi di tengah melemahnya indeks saham negara maju.
Selain pengalihan likuiditas ke negara lain, investor juga beralih ke pasar komoditas. Ini ditandai gonjang-ganjing harga minyak karena semakin berjamurnya spekulan. Kini minyak menjadi ajang spekulasi yang lebih aman, prospektif, dan menjanjikan banyak keuntungan. Namun, krisis energi yang diakibatkannya telah menyengsarakan seluruh dunia.
Krisis finansial telah mendorong krisis energi. Pada tahap berikut, krisis energi akan menciptakan krisis pangan. Hal itu dikarenakan pangan tak lagi diperuntukkan bagi konsumsi, tetapi diolah menjadi biofuel. Dengan demikian, inflasi merupakan akumulasi krisis finansial, energi, dan pangan yang terjadi secara simultan akhir-akhir ini.
Perlu pendekatan baru
Keynes pernah mengingatkan akan terjadinya kekacauan finansial disebabkan ketidakpastian dan spekulasi yang bermuara pada sifat dasar agen ekonomi. Minsky memperlihatkan sebuah gambaran suram mengenai masa depan sektor finansial dalam sebuah tajuk hipotesis financial instability. Alur pemikiran yang sama dikemukakan Modigliani dan Miller (1958). Mereka menemukan ketiadaan hubungan antara kebijakan keuangan dan kinerja perusahaan.
Rentetan krisis itu sejatinya mendorong kita untuk keluar dari pemikiran pragmatis dan mulai mencari akar permasalahan. Kebijakan fiskal dan moneter yang terlalu liberal dan mengacu pada visi stabilitas makro tanpa mengaitkan pada kebijakan penciptaan lapangan pekerjaan, pengurangan pengangguran dan kemiskinan, harus segera dikaji ulang.
( )
Republika, Rabu, 25 Juni 2008
Yudha Prama Djunaedi
Peneliti di Economica Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia dan di Indonesia Muda Institute
Filed under: Opini Ekonomi Syariah , decoupling, emerging countries, finansial global, Inflasi, interest rate, nice decade, Opini Ekbis









